Inka Nurul Alfiana

Di sekolah, bangku SMP kelas IX, pada jam istirahat kedua pukul 11.30 WIB, aku duduk bersandar dekat kaca, melihat beberapa siswa dan siswi lalu lalang di hadapanku. Sebut saja namaku Abel Jessica, aku biasa dipanggil Ace. Aku adalah seseorang yang cerdas, baik, ramah, dan termasuk salah satu kategori siswi paling tenang versi temanku. Aku memiliki tiga orang sahabat bernama Nuniz, Erisca, dan Airin.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik yang lalu, Aku larut dalam fantasiku. Degupan jantungku yang mendengung sampai ke telinga sudah tak lagi kuhiraukan. Tak ada yang pernah membuatku merasa gelisah seperti ini sebelumnya, tak ada yang bisa membuatku termenung hingga selama ini. Aku memikirkan berbagai hal di otakku, salah satunya adalah masa depanku.

Hingga sahabatku datang membuyarkan lamunanku dan berkata,”hai Ce. Sedang apa?” ”Tidak sedang apa-apa, aku hanya membayangkan sesuatu.”,jawabnya. “Baiklah.”,ketusnya. Bel berbunyi tanda istirahat telah usai.

Seorang guru datang dan menjelaskan materinya. Aku kembali termenung, tak menghiraukan satu katapun penjelasannya. Hingga guru tersebut mengetahui aku tidak menanggapinya. Guru tersebut menyuruhku untuk menjelaskan kembali apa yang dijelaskan olehnya.

“Dan aku tidak tahu apa-apa.” gumamku.

Setelah pelajaran usai, ketiga sahabatku cepat-cepat mendatangi bangkuku. Dia bertanya,”Ada apa denganmu, Ace? Kau selalu termenung satu hari ini. Bila ada masalah, kau bisa menceritakannya pada kita.” Dengan tatapan gelisah. “Bukan masalah, aku hanya memikirkan bagaimana nasibku kelak. Tak pasti.”jawabnya. Berusaha bersikap seperti biasanya agar terlihat baik-baik saja. “Berdoalah agar engkau diberikan yang terbaik oleh Allah SWT.”,jawab Nuniz. Penuh harap. “Ya betul. Tapi sekarang mari kita pulang.”, kata Airin. Dengan semangat.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk menuju kamarku. Tak menghiraukan pertanyaan Ibu. Aku berbaring menatap langit-langit. Membayangkan nasibku yang akan indah seperti hiasan-hiasan di kamarku. Khayalanku mulai berkelana lagi, aku diterima di SMA yang aku inginkan. Kemudian aku teringat akan satu hal, aku harus berangkat les sekaligus konsultasi pada guruku tentang SMA yang akan aku pilih.

Sewaktu di les, aku langsung membicarakan hal itu. Guruku memberikan gambaran-gambaran sekolah favorit yang bagus untuk aku pilih. Bingung. Satu kata pertama yang terlintas dalam pikiranku. Namun guruku lebih setuju apabila aku masuk di SMA A. Alasan yang mendasari karena kemampuan matematika yang aku miliki akan semakin berkembang di sekolah itu. Aku tak menjawab, hanya menyimak.

Sepulang les, Aku mengingat kembali perkataan guruku. Aku mulai mempertimbangkan lagi atas pilihan yang diberikan.

*****

Sebulan kemudian, brosur pendaftaraan siswa baru di SMA A tersebar. Aku mendiskusikan hal itu pada orangtuaku. Awalnya mereka setuju. Guru ku pun mendukung. Aku senang. Aku mengurus semua data yang diminta hingga selesai disamping itu aku juga belajar setiap hari. Sampai ulangan tengah semester hampir menjelang pun aku tetap belajar untuk tes, tak menghiraukan Ujian Sekolah. Tak lupa juga hampir setiap malam guruku datang ke rumah untuk menanyakan kesiapanku kesekian kalinya.

“Aku menjawab iya. Dan aku sangat antusias”, tukasku. 

Hingga satu hari Kakek dan Nenek ku tidak setuju dengan alasan bahwa aku perempuan dan tidak boleh sekolah jauh-jauh, lebih baik di kota sendiri. Aku kaget. Akhirnya orang tua ku juga mengatakan tidak setuju. Hanya guruku yang tetap mendukungku. 

Rasanya seperti dihempaskan keras ke bumi

Hidup tapi terasa mati

Gejolak hati begitu menyakiti

Orang yang aku percayai, aku kagumi, dan aku sayangi

Mengatakan ketidaksetujuannya

Semuanya hilang

Kepercayaanku

Impianku 

Hanya rasa sakit yang tersisa

Hanya tekad mengelana yang masih membara

Aku sedih. Di saat itu juga aku berhenti belajar untuk tes penerimaan siswa baru. Aku mulai belajar untuk Ujian Sekolah. Dua hari berlalu tetap dengan ketidaksetujuan kakek, nenek, dan orangtua ku. Namun, Aku tetap pada pendirianku.

Di hari ketiga aku di sidang oleh mereka. Mereka bertanya banyak hal. Aku menjawab sesuai dengan apa yang aku inginkan, namun mereka tetap tak setuju. Berkali kali aku menjelaskan tetapi sia sia.

Air mataku menetes. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Aku pulang dengan perasaan marah, kecewa, dan sedih. Dan aku mulai mengerti bahwa ini tidak akan mudah.

Mungkin aku terlalu berharap

Menutup rapat semua celah agar tak seorang pun menyadari

Berpura-pura tak ada sesuatu pun yang terjadi

Tetap bungkam, tak peduli

Namun rasa ini sungguh telah membuatku mati

Amarah, sakit hati, kesedihan yang tersembunyi

Semua membaur membakarku seperti api

Aku tak ingin kehilangan senyumanku, semangatku

Namun mereka terus saja menyeretku untuk berteriak dan berusaha melepaskan keyakinanku

Luka ini sungguh menyayat

Sakit....

Tangis tak lagi bisa mengobati

Baru kusadari

Aku telah menjadi kepingan-kepingan tak beraturan

Berserakan, tersebar tak tentu tujuan

Takkan pernah bisa kembali utuh....

Takkan pernah

Di hari keempat aku kembali di sidang. Mereka menanyakan alasanku ingin sekolah disana. Aku menyerah untuk kesekian kalinya, tak ingin berdebat lagi. Aku mulai pasrah dengan jawabanku. Mereka memberiku kesempatan untuk membuat keputusan yang terbaik. Aku bingung. Aku harus membuat keputusan dengan resiko seminimal mungkin, yang sekiranya baik untukku dan mereka.

Di hari kelima, aku bersekolah seperti biasa dengan muka yang tak lagi ceria. Namun aku tetap tersenyum. Terpaksa. Aku memfokuskan otakku untuk tak berpikiran yang tidak-tidak. Aku tak ingin merasa terbebani. Itu bisa membuatku semakin takut. Aku mulai memikirkan keputusanku. Namun tak ada hasil. Aku tahu, sekeras apapun aku berpikir, otakku tak akan menemukan konklusi lain. Sejak pertama aku bingung diantara dua pilihan. Seakan aku tidak ingin pulang ke rumah nantinya, rumahku sendiri, rumah yang membuatku berasa seperti penjara. Tapi aku juga tidak ingin tinggal disini. Aku ingin melarikan diri sejauh yang aku bisa untuk mengulur waktu.

Namun aku tak bisa. Untuk sekian kalinya aku berpikir, aku tetap tak bisa.

Tak bisa. Tak bisa. Dan takkan bisa.

Di hari keenam pada jam istirahat, aku menemukan ide menghampiri guru agamaku untuk menanyakan beberapa hal terkait masalahku. Aku menceritakan semua nya. Dan guruku menganjurkan untuk shalat istikharah. Aku mengikuti perkataannya. Guruku berkata bahwa Allah akan memberikan jawaban-Nya kepada ku.

Aku sangat bersemangat dalam hal ini.

Di malam pertama setelah terbangun, aku shalat istikharah. Aku meminta kepada nya untuk memilihkan ku satu diantara dua pilihan, yang terbaik.

Dua malam. Tiga malam. Empat malam. Aku tetap tidak mendapatkan jawaban-Nya. Mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi. Kesabaranku diuji disini.

Tadinya aku ragu, tapi ternyata aku harus menghadapinya. Aku belajar bahwa keadaan ini memaksaku untuk menjadi kuat. Meski tak jarang aku harus menahan tangis kala malam datang. Kuakui aku memang cengeng. Tidak sekuat orang lain.

Lalu dihari kelima setelah shalat, aku bermimpi. Dan jawabannya aku memilih untuk tetap pada keinginanku.

Di hari ke tujuh sekaligus juga hari pertama Ujian Sekolah, aku kembali di sidang. Aku menjelaskan keputusanku dan semua tentang mimpiku. Dari situ mereka mulai mempertimbangkan lagi. Aku berharap mereka setuju.

Keesokannya aku tetap fokus pada Ujian Sekolahku. Sesampainya di rumah, orangtua ku menelepon. Mereka mengatakan bahwa aku dijinkan mendaftar ke sekolah itu. Mamaku berkata tidak akan menghalangi keinginanku lagi selama itu baik untukku. Aku sangat senang, gembira, bercampur aduk rasanya. Itu merupakan kabar terbaik yang pernah aku dengar. Setelah berhari-hari hidup dengan ketidaksetujuan.

Akhirnya aku percaya pada satu pepatah “Orang sabar akan menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri”.

Di malam itu aku belajar kembali untuk tes, tidak menghiraukan Ujian Sekolah lagi.

Di hari sabtu tanggal 2 April 2015, aku mengikuti tes tersebut. Ada dua sesi tes. Yang pertama tes potensial akademik dan yang kedua tes akademik. Semuanya berjalan dengan lancar. Hasil tes tersebut akan diumumkan di hari senin tanggal 4 april 2015 tepatnya jam 12.00 WIB. Aku menanti dan terus berdoa. 

Dan di hari senin, aku sekolah seperti biasanya sambil menunggu pengumuman, namun pengumumnya belum juga keluar. Aku gelisah setengah mati.

Sesampainya di rumah, Ibuku mendapat telfon bahwa aku diterima. Aku kaget, tak percaya. Aku dan guruku langsung berangkat ke sekolah tersebut untuk melihat pengumumannya. Waktu perjalanannya hanya sekitar satu setengah jam dari kotaku, agak jauh sebenarnya. Tapi jarak itu tak lagi masalah karena aku benar-benar ingin melihat pengumumannya.

Ternyata aku berada di urutan ke empat puluh empat dari enam puluh tujuh siswa yang diterima. Aku sangat senang dan bersyukur. Keinginanku tercapai. Aku pulang kerumah dengan wajah gembira.

Jalan-jalan kehidupan

Masa-masa yang berputar

Aku terpontang-panting

Napas yang dalam

Setelah diterima, aku belajar kembali untuk Ujian Nasional hingga aku lulus dan bersekolah di kota A. Aku menikmati kehidupan baruku-dengan antusias. Aku bersyukur telah di terima di sekolah ini. Walaupun dengan jarak yang tidak dekat. Tapi itu tak lagi menjadi masalah. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati.{}

0 Responses

Posting Komentar