Inka Nurul Alfiana


​Ketika aku marah

Pergilah sejauh mungkin

Karena ku tahu kau tak ingin mendengar teriakanku

Dan melihat ambisi ingin membunuhku

Ketika aku marah

Jangan tanya mengapa

Jangan bicara tentang kesabaran

Dengarkan aku!

Jangan mengguruiku!

Peluk diriku!

Seringnya sentuhan lebih berarti daripada ucapan

Ketika aku marah

Biarlah aku melakukan apa pun yang kuinginkan

Merusak gendang telingaku dengan musik keras, volume tak terbatas

Menutup mataku dan mengatur napasku

Mematikan lampu, duduk berdiam diri dalam gelap

Menulis coretan-coretan di kertas

Hanya agar emosi di kepalaku tak meledak dan melukaiku

Asalkan aku berhenti membanting handphone-ku

Asalkan aku menolak merusak barang-barang

Asalkan aku menghindari membanting pintu

Asalkan aku tak memakimu dengan kata-kata kotorku

Biarlah. . .

Biarlah. . .

Karena ketika aku marah

Aku tak mengenal lagi siapa diriku

Tak ku kenal mana yang benar mana yang salah

Aku hanya merasakan sesak sakit sangat di dadaku

Atau tetesan pedas air mata melalui sudut-sudut mataku

Namun tenanglah, semua itu hanya ketika aku marah

Bukan akhir dari dunia

0 Responses

Posting Komentar